Review dari Kritikus Film Amatiran: Kala (Joko Anwar)

salah satu adegan film Kala

Selama ini saya tidak pernah antusias memburu film Indonesia. Sebab banyak dari mereka yang pada akhirnya membuat saya kecewa. Hingga saat ini hanya ada 5 film Indonesia yang membuat saya sedikit terkesan . Yaitu, Ada Apa Dengan Cinta, Dilan 1990, Malaikat Tak Bersayap, Rudy Habibie, dan Kala. Nah, untuk yang terakhir ini, saya baru menontonnya kembali hari ini. Sebelumnya, saya pernah menonton film bergenre horor ini pada kelas 3 SMP. Saya menontonnya beramai-ramai bersama kakak dan adik sepupu. Kesan yang saya dapat sehabis menontonnya waktu itu adalah keren sekaligus menyeramkan. Walaupun nonton beramai-ramai, tapi film ini dulunya mampu membuat saya terkejut-kejut dan memejamkan mata. Hari ini, saya menontonnya kembali sendirian di kos. Tapi tidak ada rasa takut yang sama seperti dulu. Mungkin, ini karena mental saya yang semakin meningkat seiring umur bertambah. Tapi entahlah, saya tidak lagi merasakan kengerian saat menonton film besutan sutradara kawakan, Joko Anwar itu. Meskipun begitu, film ini masih mampu membuat saya terkesan terutama karena efek noir yang membuat sinematografinya terlihat keren. Selain itu, unsur historis dalam film ini juga membuat Kala semakin keren. Tidak banyak film hantu di Indonesia yang memasukkan unsur historis ke dalamnya.

ending film Kala
Tapi bagaimana pun juga, bukan film Indonesia namanya kalau tidak menyelipkan sedikit kekecewaan kepada penonontonnya. Dalam film Kala, hal yang paling mengecewakan menurut saya adalah endingnya. Scene saat Janus (Fachri Albar) dan Eros (Ario Bayu) hendak dieksekusi menggunakan pistol, bagi saya benar-benar konyol. Bagaimana tidak? Saat mereka berdua hendak dieksekusi, tiba-tiba saja muncul sosok makhluk ghaib bernama Pindoro beserta Ratih (saya tidak tahu nama pemerannya). Mereka berdiri di atas candi di kejauhan. Namun bukannya langsung menembak kepala Janus dan Eros, bapak-bapak yang hendak mengeksekusi mereka tadi malah melongo melihat Ratih meloncat dari puncak dan membunuh rekan mereka satu per satu. Scene itu terasa benar-benar konyol, saat kedua bapak tadi berusaha menembakkan pistol mereka ke arah Ratih, tiba-tiba pistol mereka tidak berfungsi. Kalau saya jadi Joko Anwar, saya akan mengganti adegan ini dengan kemunculan Pindoro di dekat kaki dua orang bapak tadi. Karena terkejut, kedua orang tadi langsung menodongkan pistol mereka ke arah makhluk menyeramkan itu.Tapi seketika itu, kepala mereka tertebas pedang Ratih. Baru setelah itu sosok Ratih diperlihatkan muncul di belakang mereka. Dan, rekan-rekan bapak tadi yang ketakutan berusaha kabur. Ratih dengan mudah menyusul mereka lalu membunuh mereka satu per satu. Saya pikir, adegan seperti itu terasa lebih logis dan bisa diterima akal.

akting aktor Fahcri Albar
Selain itu, akting para pemainnya yang tidak terlalu total juga membuat saya sedikit kecewa. Terutama Ario Bayu dan beberapa pemain figuran, yang menurut saya gaya bicaranya terlalu formal. Mungkinkah ini memang arahannya Joko Anwar untuk berbicara dengan gaya seperti itu? saya tidak tahu. Yang jelas, Kala masih gagal membawa penontonnya ke dalam dunia yang ditawarkan film itu. Banyak adegan yang secara tidak langsung memberi tahu penonton kalau itu hanyalah fiksi. Tentu saja hal yang sangat berbeda saat kita menonton film-film Hollywood di mana para penontonnya seolah-olah ikut ke dalam dunia yang ditawarkan film. Bagaimana tidak? Anak kecil di film Hollywood saja sudah bisa berakting total, apa lagi orang dewasanya. Yang lebih hebatnya lagi, para pemain figuran di film Hollywood yang bahkan hanya sekedar numpang lewat, semuanya berakting natural dan sama sekali tidak terlihat itu hanyalah sebuah scene yang diarahkan seorang sutradara. Di film-film Indonesia, saya merasa sangat terganggu dengan kehadiran orang-orang di dekat pemeran utama, mereka sedang mengobrol tapi kelihatan sekali kalau mengobrolnya pura-pura. Saya tidak tahu bagaimana para sutradara film-film Hollywood bisa menemukan artis-artis figuran sehebat itu. Tapi untuk perfilman Indonesia, di mana akting pemeran utamanya saja masih banyak yang kurang bagus, saya berharap, kualitas mereka juga akan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Di film Kala, satu-satunya pemeran yang kualitas aktingnya bagus menurut saya hanyalah Fachri Albar. Tidak heran kalau dia menjadi aktor kesayangannya Joko Anwar. Kalau saya menjadi sutradara, saya juga ingin Fachri Albar menjadi pemeran utama di film-film saya.

Oh ya, masih ada satu lagi yang kurang dari Kala, yaitu latar belakang musiknya. Sama seperti film-film Indonesia lainya yang terlalu mengandalkan musik violin serta suara vokal yang berlebihan, dalam film Kala, musik violin dengan nada tinggi juga mendominasi adegan film. Bagi saya ini tidak keren, kalau saya menjadi sutradara, saya kan menginstruksikan editor musiknya untuk menciptakan latar belakang musik piano yang menenangkan atau single akustik, seperti dalam film Hachiko A Dog's Story (2009) ataupun Babel (2006). Pasti akan lebih keren, iya tidak?

3 comments:

  1. Kak, review filmnya keren. Bahkan kakak sampai menjelaskan "ending" yang sesuai sama bayangan Kakak. Kadang-kadang ekspetasi ending yang kita harapkan tidak sama dengan buatan penulis skenario & sutradara. Jadi, kita suka membayangkan ending milik kita sendiri.

    Salam kenal Kak.
    Ditunggu blog walkingnya ke blog saya ya Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Wkwk, soalnya saya juga pengen jadi sutradara. Oya terimakasih kunjungannya, blog kamu sudah saya kunjungi, kontennya keren-keren.

      Salam kenal kembali :)

      Delete