![]() |
Ketika Dunia Melihatku |
Saat berkunjung ke blog miliknya, ekspresi pertama yang saya
rasakan saat itu adalah: heran. Ya, heran. Karena saya tidak menyangka kalau di
dunia maya ini, masih ada blog keren yang ramai pengunjungnya. Setiap konten
yang saya baca di blog dengan nama ‘Ketika Dunia Melihatku’ ini, selalu dibanjiri
komentar hingga puluhan. Semenjak Raditya Dika tidak lagi menulis di blog, dan
anak-anak muda terlalu asik dengan game dan youtube, saya sempat berpikir bahwa
dunia blog sudah mati. Atau lebih tepatnya, sudah sekarat alias dying. Tapi
blog milik Einid Shandy ini menegaskan kalau dunia blog juga masih bisa
bertahan dan tetap menjadi pilihan bagi manusia-manusia maya di luar sana.
Mudah-mudahan setelah ini saya akan segera menemukan blog-blog kece yang tidak
kalah ramainya dari milikmu, Shandy :)
Hm, saya jadi teringat blog Enigma. Blog misteri itu adalah
salah satu blog favorit saya ketika awal-awal mengenal dunia blog. Sayang
sekali blog itu kini sudah vakum. Padahal konten-konten blog ini pernah
dibukukan dan laku keras lho. Tidak ada yang tahu kemana adminnya pergi.
Mungkinkah ia kini beralih menjadi seorang youtuber? Wkwk, saya tidak tahu.
Tentang Einid Shandy, nama itu adalah nama pena dari
penulisnya. Nama sebenarnya saya belum tahu, mungkin nanti akan saya tanya.
Nama itu terinspirasi dari seorang penulis cerita anak asal UK, Einid Blyton.
Jujur saja, saya pertama kali mendengar nama Einid Blyton. Tapi saya senang bisa mengetahui beliau. Terimakasih sudah mengenalkanku kepada salah satu
penulis hebat dunia!
Waktu kecil saya memang lebih suka membaca komik manga
ketimbang membaca buku cerita. Satu-satunya serial anak yang saya ikuti
hanyalah serial berjudul ‘Kami Anak-Anak Bullerbyn’ karangan seorang penulis Swedia yang saya
tidak lagi ingat namanya. Saya membacanya di perpustakaan kota, jadi saya tidak
punya buku-bukunya. Setelah ini saya ingin mencari tahu lebih banyak tentang
serial itu. Tampaknya menyenangkan sekali bernostalgia dengan bacaan masa kecil
yang penuh dengan dunia mimpi dan petualangan. Saya juga ingat, novel pertama
yang saya baca juga merupakan novel bergenre fiksi yang ditujukan untuk
anak-anak. Saya masih ingat judulnya, tapi lupa nama penulisnya. Judulnya
adalah: Edgar & Ellen. Sebuah novel yang bercerita tentang dua anak kembar
yang sangat bandel dan suka berbuat onar. Tapi, Ellen sang kakak tiba-tiba
berubah sikapnya menjadi lebih baik dan santun. Hal ini membuat Edgar sang adik
keheranan. Usut punya usut, perubahan tiba-tiba pada Ellen terjadi karena ulah
sosok monster imut bermata satu yang saya lupa namanya. Selebihnya, saya tidak
begitu ingat lagi plotnya seperti apa, heheheh. Pokoknya novel ini keren, dan
reccomended sangat lah. Namun saya tidak tahu apakah bukunya masih tersedia di
pasar atau tidak, mengingat ini adalah novel lama.
Kalau saya tidak salah, penulis novel ini berasal dari
Inggris. Buku itu adalah pemberian sepupu saya dari Bandung. Itulah novel
pertama yang saya baca. Waktu itu umur saya sekitar 15 tahun dan masih duduk di
bangku SMP. Sayangnya, novel yang sangat berarti bagi saya itu hilang saat di
rumah saya ada acara tahlilan kematian nenek saya. Saya jadi sedih, karena
setelah harus kehilangan nenek saya, saya juga harus kehilangan novel pertama
yang saya baca. Tapi setidaknya saya bersyukur, karena berkat ‘Edgar &
Ellen’ saya mulai sadar bahwa membaca novel itu juga menyenangkan. Lebih
menyenangkan dari pada membaca komik manga. Dari buku itulah minat membaca saya
semakin berkembang, hingga akhirnya memutuskan untuk bercita-cita menjadi
seorang penulis.
Hai Kak...
ReplyDeleteSalam kenal ya kak.
Blog aku sekarang sudah ganti look, tapi isinya masih tetap menyenangkan.
Oke, segera meluncur
DeleteSalam kenal ya. Saya mencari blog mbak Einid Shandy dan ternyata artikel ini yang nongkrong di page one google.��
ReplyDeleteWkwkwk,mon maap bang. Salam kenal kembali :)
Delete