dailysocial
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Bagi kamu yang belum membacanya, boleh melihatnya di sini

Tetapi, kedua tulisan saya ini tidak saling berkesinambungan, kok jadi terserah kamu mau membaca yang mana duluan. Bahkan jika tidak membaca dua-duanya, juga boleh.

Tanpa basa-basi lagi, berikut lanjutannya:


Tentang Sampah


kajianpustaka.com

Saya sempat berpikir, orang-orang di negeri ini malas memikirkan sampah, sebab ada hal yang lebih krusial untuk mereka pikirkan setiap hari: asupan karbohidrat.

Ya, untuk masyarakat yang setiap hari harus bekerja keras untuk dapat mengisi perut mereka dan anak-anak mereka, saya pikir tak ada lagi cukup tempat di pikiran mereka untuk sekedar peduli pada lingkungan.

Di tengah permasalahan ekonomi yang menjerat sebagian besar masyarakat kita, mungkinkah kesadaran tentang pentingnya mengelola sampah bisa muncul?

Awalnya saya berpikir begitu, tapi rupanya saya salah. Sebab, di jalanan saya sering menjumpai para pengemudi mobil pribadi, yang seenaknya membuang sampah lewat jendela mobil mereka. Benar, mereka yang bestatus ekonomi menengah ke atas pun tidak punya kesadaran pada lingkungan!

Sebenarnya, problem sosial dan kesadaran adalah dua hal yang berlainan. Setiap orang bisa saja memiliki segudang masalah, tapi sekali mereka punya kesadaran, kebiasaan baik mereka tak akan pernah hilang.

Masalah utama dari orang-orang di negeri ini sebenarnya cuma satu, yakni kurangnya kesadaran. Kebiasaan menganggap persoalan sampah adalah hal yang remeh-temeh, membuat kesadaran masyarakat kita terhadap lingkungan sangat minim. Ditambah kurangnya sosialisasi dari pemerintah, jelas saja masyarakat kita menganggap enteng sampah yang bertebaran di mana-mana.

Bagi saya, jumlah sampah yang bertebaran di sebuah kota, menjadi seperti sebuah indikator bagi tingkat keegoisan masyarakat di kota itu. Sebab, hanya orang yang bermental sangat egois, yang masih suka buang sampah sembarangan. Hanya orang yang sangat egois yang menganggap pengelolaan sampah yang baik itu sama sekali tidak berpengaruh bagi hidup mereka.

Karena itu, melihat masih kurangnya kesadaran masyarakat kita terhadap bahaya sampah, saya rasa tidak berlebihan jika saya menganggap orang-orang di negeri ini masih banyak yang bermental egois tingkat tinggi!


Tentang Hari Buruh

*tulisan ini saya tulis bertepatan dengan hari buruh 1 Mei 2019.


BMV Katedral Bogor

Hari ini tanggal 1 Mei. Hari buruh sedunia. Di berbagai wilayah di dunia beberapa orang yang peduli turun ke jalan-jalan. Menggelar parade dan long march. Menuntut para penguasa lebih serius memerhatikan hak kaum buruh, yang selama ini seringkali diabaikan.

Tapi gemuruh suara tuntutan itu hanya datang setahun sekali. Selebihnya hanya gema yang tak terdengar. Tenggelam dalam riuh rutinitas.

Kini, di era industri 4.0, nasib para buruh semakin tidak menentu. Dengan semakin gencarnya teknologi artificial intelligence, penggunaan tenaga manusia pun semakin sedikit digunakan. Sudah pasti para kapitalis lebih tertarik menggunakan tenaga mesin, yang tak pernah lelah, tak butuh tunjangan ini itu, dan bisa bekerja jauh lebih cepat ketimbang manusia. Penggunaan teknologi memang jelas memangkas biaya produksi, tapi nasib para buruh juga ikut terpangkas. Sebaliknya, pundi-pundi uang semakin berlimpah ruah jatuh kepada mereka para pemilik modal.

Di tengah banyaknya ketidakpuasan para buruh di bawah tekanan kapitalis, kini nasib mereka pun tidak hanyak sekedar tertindas, namun terancam akan kehilangan mata pencaharian. Padahal, para buruh seharusnya diberi penghargaan tertinggi. Mereka layak diapresiasi. Mereka layak hidup sejahtera. Sebab, segala peradaban ini datang dari kerja keras dan keringat mereka.


Happy May Day! Selamat Berjuang!
www.kumparan.com
Dulu, aku pernah membuat sebuah akun Instagram khusus, yang rencananya sih hendak aku gunakan untuk menyampaikan keresahan-keresahanku terhadap kondisi negeri ini dalam bentuk tulisan, dan tentu saja karena ini Instagram, tulisanku itu hanya berbentuk caption, sehingga karakternya sangatlah terbatas. Tapi waktu itu aku berusaha keras belajar menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan singkat, karena target pembacaku adalah anak muda yang memang semakin keranjingan aplikasi berbagi foto ini. Sayangnya, di akun tersebut aku hanya mampu konsisten menulis hingga lima postingan saja. Memalukan memang, tapi mau bagaimana lagi, pesimisme dan sinisme menyerangku. Aku mulai bertanya-tanya tentang niat sebenarnya aku melakukan ini. Benar-benar menginginkan sebuah perubahan atau hanya sekadar ingin cari duit memanfaatkan kepopuleran Instagram. Pada akhirnya, aku benar-benar meninggalkan akun tersebut.

Tapi setelah sekian lama, aku kembali teringat dengan akun tersebut. Begitu aku membaca ulang tulisan-tulisanku itu, tiba-tiba saja terlintas ide untuk memindahkannya ke blog ini.

Aku menulis berbagai topik dan isu, mulai dari literasi, pendidikan, persoalan sampah, hingga politik. Beberapa tulisan memang tidak lagi relevan dengan hari ini, tapi masih ada amanat dan pesan moral yang menurutku akan tetap relevan sampai kapan pun. Selamat membaca. Salam literasi!

Mari Kita Awali dengan Membaca (Literasi)

Pixabay
Tanggal 23 April kemarin adalah hari buku sedunia. Dan sekarang adalah tanggal 25 April, masih ada 22 hari lagi untuk menuju hari buku nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei nanti. Lantas, sejauh mana sudah kemajuan masyarakat Indonesia dalam hal membaca?

Dilansir dari detiknews (5/1/2019), berdasarkan hasil rilis sejumlah penggagas dunia literasi, Indonesia masih menempati urutan rendah dalam hal ini.

Survey yang diumumkan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada tahun 2016 misalnya. Disebutkan, Indonesia berada pada rangking 62 dari 70 negara yang disurvey.

Sayang sekali bukan? Sebagai negara yang besar, Indonesia masih kalah dalam hal literasi.

Pikiran yang tajam tentu saja berasal dari pengetahuan yang luas. Tidak mungkin pola pikir sebuah masyarakat akan maju jika masih menutup diri dari berbagai pengetahuan yang semakin meluas seiring dengan berkembangnya zaman. Dan cara termudah dan efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang luas adalah dengan membaca.

Akan tetapi gemar membaca pun masih belum cukup. Haruki Murakami mengatakan, jika kau membaca buku yang biasa dibaca kebanyakan orang, maka caramu berpikir pun akan seperti kebanyakan orang. Dalam hal ini, pilihan membaca pun sangat penting. Pikiranmu akan begitu-begitu saja, jika buku yang kau baca pun begitu-begitu saja. Bacalah buku dari orang-orang hebat. Mereka-mereka yang mampu mengubah dunia menggunakan kekuatan pikiran mereka. Maka kelak kau pun akan dapat berpikir dengan cara seperti mereka.

Saya, Korban Pendidikan Buruk di Negeri Ini (Edukasi)

Pixabay
Kalau ada yang bertanya, siapakah saya. Maka dengan malu saya harus jawab, saya bukan siapa-siapa. Tidak punya keahlian khusus. Tidak jago matematika, tidak bisa bermain musik, dan hanya punya kemampuan sedikit dalam hal menulis.

Jujur saja, belum ada satu pun bidang yang benar-benar saya kuasai. Saya bagaikan seorang ambassador, dari ungkapan terkenal, 'Jack of all trades but master of none'. Ya, segala bidang cuma saya tahu sekedarnya, tak ada satu pun yang benar-benar saya kuasai.

Awalnya saya berpikir, saya begini karena saya bodoh. Tapi belakangan, saya menyadari, sejatinya saya adalah korban dari sebuah produk gagal. Dan produk gagal itu bernama pendidikan.

Saat masih kecil, saya mengira saya cukup pintar. Saya telah bisa membaca di usia 5 tahun. Telah bisa melakukan perhitungan aritmetika di kelas satu SD. Di saat teman-teman saya masih terbata-bata mengeja bacaan, saya sudah mampu membaca lancar, bahkan untuk menghabiskan sebuah novel sekalipun.

Tapi sewaktu kecil, pikiran saya terlalu dangkal untuk memahami apa yang saya inginkan. Saat melihat seorang pilot, saya ingin seperti mereka, apalagi saat melihat gambar astronot di buku-buku. Tapi waktu itu saya lebih suka menghabiskan waktu saya dengan membaca cerita dan menggambar.

Lulus SD, saya benar-benar buntu terhadap pelajaran apa yang saya sukai. Bayangkan dengan lebih dari 10 mata pelajaran, tiap-tiap guru memaksa setiap murid menguasai mata pelajaran mereka dengan baik. Jika ada yang nilainya kurang bagus, maka murid itu akan dianggap bodoh. Saya frustasi dan akhirnya jadi malas belajar.

Andai saja, dulu saya bisa seperti Albert Einstein, yang bisa sesuka hati bolos mata pelajaran yang ia benci. Hanya masuk mata pelajaran yang ia sukai. Mungkin saat ini, saya bisa menjadi seorang 'master of something'. Akan tetapi saat masih bersekolah dulu, saya benar-benar buntu terhadap mata pelajaran apa yang seharusnya saya geluti. Sebab, dari SD hingga SMA  tidak pernah ada program pengembangan bakat dan minat. Sekolah hanya sekedar untuk lulus ujian. Setelah itu, lupa segalanya.

Saya, adalah korban dari buruknya pendidikan di negeri ini.

Knowledge, We Should Love You (Sosial, Edukasi, Sains)

Pixabay
Di dunia ini, kecerdasan tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Orang cerdas bisa saja berakhir menyedihkan, jika kecerdasannya digunakan secara tidak tepat. Menipu orang, mencari cara berbuat curang, atau korupsi misalnya. Tapi cinta terhadap ilmu pengetahuan, adalah cikal-bakal dari lahirnya kecerdasan itu sendiri. Dan rasa cinta itu datang dari rasa ingin tahu yang besar.

Pernah membayangkan, betapa di negeri ini ilmu pengetahuan dianggap menjemukan, bahkan jika tidak berlebihan, dianggap tabu. Sehingga kalau kau melihat beberapa anak muda berkumpul, bisa dipastikan, tidak ada pembicaraan tentang ilmu pengetahuan di sana. Bagi siapa pun yang mencintai ilmu pengetahuan dilarang untuk membiarakan perihal itu. Jangan berdiskusi soal itu, kalau tidak mau dianggap sok pintar ataupun kurang asik.

Memang, pembicaraan mengenai ilmu pengetahuan bukan sama sekali tidak ada. Komunitas pecinta sains, mustahil tidak eksis di negara sebesar ini. Tapi untuk masyarakat dengan jumlah populasi ke-4 terbesar di dunia, jumlah mereka masih terlalu kecil. Padahal, ilmu pengetahuan adalah tonggak sebuah negara. Jika sebuah negara diibaratkan sebuah bangunan, maka sains adalah lantai beserta tiangnya, sementara seni adalah ornamen yang memperindah bangunan tersebut.

Dari kecintaan terhadap pengetahuanlah, orang-orang hebat yang mampu mengubah dunia lahir. Bayangkan, jika dalam setiap pembicaraan, orang-orang lebih suka mendiskusikan tentang sains, sosial sains, maupun seni ketimbang membicarakan kehidupan orang lain, bisa dipastikan dari seribu orang yang berdiskusi itu, akan muncul satu tokoh yang inovatif. Yang muncul dengan gagasan baru tentang kehidupan yang lebih baik.

Bayangkan jika setiap orang lebih senang mencari dan melahap ilmu pengetahuan ketimbang sekadar berbelanja barang-barang mewah yang sebenarnya hanya semu belaka. Ada berapa banyak sumber daya alam yang terselamatkan?

Ya, setiap orang memang butuh hiburan. Dan karena itu seni hadir di dunia ini. Tapi seni yang baik adalah seni yang mampu membawamu menuju kebenaran sejati. Bukan seni yang menawarkan kehidupan hedonis yang semu. (berlanjut ke bagian 2)
Pixabay
















F #1

Kau hendak menutup sekolah di pikiranmu
Kau kunci dengan kemalasan kanak-kanak tanpa jajan yang banyak
Kau hendak memucatkan sejarah darah?
Orang-orang bodoh berumah roboh,
berbaju monja dan tak memikirkan apa selain makan sesuap saja
Maka F, kau harus bijak membajak hidup, sekolah agar tak redup
Sebab ilmu adalah buruan yang memberimu harapan terang
Seperti terongkeng kakek menyala di surga.

Januari 2020


Malam Ini
: Irsyad Fraya

Malam ini aku ingin masuk ke dalam tidurmu,
menjadi mimpi buruk semalam suntuk,
Jika kau terjaga setelah berteriak,
minumlah segelas sajak, aku larut dalam sajak itu
Jika kau batuk aku akan terbahak,
saat itu juga aku menjelma apa saja; burung hantu di jendela,
dongeng buruk dalam kepala, si buruk rupa bukan cerita Cinderella
Malam ini namaku hitam, membawa payung,
membaca mantra hujan, jika kau menangis
aku akan menampung airmatamu,
membantu membuangnya ke selokan,
semoga ikan-ikan kecil mati
harapan-harapan besar mati
Perkenalkan, namaku sifat buruk manusia.

Januari - Februari 2020

Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris - Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris, Spanyol dan Esperanto. Menulis sejak 2006. Buku   puisi ke-10nya bertajuk *ULANG DOKON-DOKON NA HUDOKON-DOKONI PALA DOKONKO NA HUDOKON-DOKONI*. Aktif COMPETER Indonesia. WA: 0819 4940 2585.