![]() |
lowongandemak.com |
Setiap kali menemukan tulisan yang memikat di internet, saya selalu ingin
menulis sesuatu. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya secara tidak sengaja
menemukan cerpen dari seorang cerpenis bernama AS Laksana. Judul cerpen itu
adalah ‘Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali’ dan dimuat di Koran Jawa Pos dan juga diposting di blog lakonhidup.com. Setelah membaca cerpen itu, saya merasa
begitu tergila-gila, dan keinginan untuk menulis cerpen langsung terbesit.
Alhasil, pada malam itu saya berhasil menyelesaikan cerpen saya yang berjudul
‘Laki-laki yang Ingin Punya Pacar Seorang Cerpenis’. Sebenarnya ide tentang
cerpen itu sudah datang dua hari sebelumnya, tapi pada malam itu meskipun
kurang tidur saya sanggup menyelesaikanya dalam waktu kurang lebih 4 jam di
sebuah warung kopi 24 jam di daerah Rukoh, Banda Aceh. Namun pada akhirnya,
saya tetap kecewa. Karena setelah selesai, saya merasa cerpen saya itu terlalu metro-pop. Padahal
sebenarnya saya ingin menulis cerpen dengan gaya layaknya AS Laksana, atau
minimal dengan sedikit balutan psikologis seperti karya-karyanya Yetti Aka.
Saya suka cerpen-cerpen AS Laksana, karena mereka sanggup membuat saya
tertawa. Tapi bukan berarti cerpen-cerpen beliau ini bergenre humor. Menurut
saya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa tertawa saat membaca cerpen beliau.
Sulit untuk mendeskripsikannya lewat kata-kata, karena itu melalui blog ini,
saya ingin langsung saja mengutip sedikit potongan dari cerpen beliau yang
membuat saya tertawa di dalam hati. Kalau kamu juga tertawa saat membacanya,
berarti kita sama.
___
Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali
Oleh: AS Laksana
Lelaki itu pergi pada Sabtu sore ke tempat ia biasa bertemu teman-temannya,
sebuah rumah kayu di tepi sungai, beberapa puluh meter dari jembatan besi yang
bulan lalu digunakan oleh seorang pelajar hamil untuk menceburkan diri ke air
keruh dan mayatnya ditemukan dua hari berikutnya di belakang kios tukang cukur,
tersangkut akar pohon yang menjulur dari tebing bersama sampah-sampah. Di rumah
tepi sungai itu semua temannya sudah menunggu, tetapi lelaki itu ti ak pernah
tiba di tempat teman-temannya menunggu. Ia juga tidak pernah kembali ke
rumahnya.
Istrinya sedang telungkup di ranjang memegangi ponsel dengan khusyuk seperti
orang beribadah ketika lelaki itu berpamitan. “Aku ke rumah Mujiono,” katanya.
Perempuan itu seperti tidak mendengar apa-apa. Sebetulnya ia tidak peduli
suaminya hendak ke mana.
Pada sepuluh tahun pertama mereka berumah tangga, perempuan itu selalu
cemas setiap kali suaminya pergi keluar rumah pada waktu-waktu senggang, entah
ke rumah teman atau ke kedai kopi atau ke tempat mana pun yang ia sebutkan,
sebab lelaki itu mudah jatuh cinta. Tepatnya, Ratih meyakini bahwa suaminya
adalah lelaki mata keranjang yang akan lekas jatuh cinta kepada sembarang
perempuan yang mau meladeninya bercakap-cakap. Ia kokoh dengan keyakinannya dan
itu membuat suaminya suatu hari meledak: “Kenapa kau tak pernah mempercayaiku?”
Perempuan itu, tanpa rasa gentar sedikit pun oleh bentakan suaminya, menanggapi
ledakan dengan enteng: “Kurasa kau pun tidak akan sanggup mempercayai dirimu
sendiri.”
Empat kali mereka hampir bercerai dan pada pertengkaran terakhir perempuan
itu mengadu kepada ayahnya, “Bajingan itu berkali-kali mengkhianatiku,
berkali-kali minta maaf, dan berkali-kali pula mengulangi perbuatannya. Aku
tidak sanggup lagi memaafkan.” Ayahnya menggumam:
“Lupakan dia, jika kau tak sanggup memaafkannya.”
Sekarang, setelah dua puluh tahun lebih berumah tangga, Ratih tetap tidak
sanggup memaafkan suaminya dan tidak bisa juga melupakannya. Yang bisa ia
lakukan hanya tidak memedulikan segala tingkah polah suaminya. Kalau pun lelaki
itu berniat jatuh cinta setiap hari, kepada perempuan lajang atau bersuami, ia
mau tutup mata saja dan tidak ingin memikirkannya. Dan ia sudah membuat ke
putusan tegas: Seburuk-buruknya urusan di dunia ini adalah bertengkar setiap
hari dengan bongkahan batu. Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap sebongkah
batu kecuali menghantamnya dengan martil hingga pecah berkeping-keping, tetapi
ia tidak melakukannya. Mereka sudah sama-sama tua dan memiliki anak-anak;
menghancurkan bongkahan batu tua itu sama artinya dengan menghancurkan rumah
tangga mereka sendiri.
Perempuan itu memilih jalan tenteram: dalam dua tahun terakhir ia rajin
melakukan tindakan-tindakan penambah pahala, ialah mencari kutipan dari kitab
suci dan menyiarkannya lagi melalui segala saluran yang ada di ponselnya. Ia
pikir lebih baik mempersiapkan diri untuk masa depan yang mulia di akhirat
nanti ketimbang mengurusi batu tua yang sudah jelas akan menggelinding ke
neraka.
Suaminya juga merasa lebih tenteram setelah istrinya tidak lagi cemas dan
berpikir bahwa perempuan itu sudah bisa memahaminya. Hanya satu kali ia mencoba
mengingatkan istrinya agar jangan terlalu sering berdakwah.
“Mungkin teman-temanmu bisa merasa terganggu jika tiap hari kau
berkhotbah,” katanya.
“Tak ada yang akan terganggu,” sahut istrinya. “Teman-temanku bukan iblis.”
“Ya, tapi mereka juga bukan idiot.”
“Kauurus jalanmu sendiri, aku dengan jalanku sendiri.”
Lelaki itu merasa istrinya cantik sekali saat menyampaikan kalimat tersebut
dan ia tidak memiliki keberatan sama sekali untuk menyepakati usulannya agar
mereka mengurus jalan masing-masing. Tidak ada sulitnya membiarkan perempuan
itu beribadah dengan ponselnya.
Begitulah cara badai reda. Langit biru di luar sana. Sesungguhnya tidak,
tetapi lelaki itu merasa di luar sana langit berwarna biru jernih dan angin
bertiup sejuk dan pikirannya terang benderang. Ia merasa mendapatkan izin dari
istrinya.
Sumber: lakonhidup.com/2018/02/04/seorang-lelaki-tidak-mati-dua-kali
___
Itu adalah sedikit potongan dari judul cerpen AS Laksana yang saya sebutkan
di atas. Sebenarnya plot cerpennya cukup absurd. AS Laksana memasukkan dirinya
sendiri ke dalam cerpen itu (bahkan ia diceritakan mati di sana). Dalam
paragraf awal, ia juga mengatakan cerpen tersebut adalah bikinan kawannya yang
bernama Hartanto Ramelan, yang telah lebih dulu dijemput oleh malaikat maut. Ia
mengaku mengambil cerpen tersebut dari blog temannya itu, dengan alamat domain
ramelan2325.com. Tapi setelah saya cek, blog itu tidak pernah ada, dan mungkin
nama Hartanto Ramelan itu juga hanya akal-akalan AS Laksana semata. Pada malam
itu berhasillah saya kena tipu.
Sebenarnya, malam ini saya pun berhasil menemukan tulisan yang membuat saya
tergila-gila. Ceritanya, saya sedang iseng-iseng menguji apakan blog
memprihatinkan saya ini sudah cukup diakui oleh si empunya, google. Jadi saya coba saja mengetikkan judul-judul artikel di blog
ini untuk melihat apakah artikel saya keluar di hasil penelusuran pertama,
sepuluh, atau tidak ada sama sekali. Dan ternyata nasib blog saya ini pun sama
tragisnya dengan karier saya dalam menulis cerpen.
Sejauh ini baru ada dua cerpen saya yang dimuat. Itu pun di media lokal
yang kehadirannya amat sangat saya cintai (karena telah sudi menerbitkan
karya-karya saya, hehehe). Apa lagi kalau bukan Serambi Indonesia. Namun
setelah dua cerpen itu dimuat Serambi, lagi-lagi saya merasa kecewa. Setelah
membacanya lagi dan membanding-bandingkannya dengan karya cerpenis hebat, saya
merasa dua cerpen saya itu tidak ada apa-apanya. Saya berpikir, saat
menyelesaikan cerpen-cerpen tersebut, mungkin saya hanya tengah berada dalam
kondisi ‘bisa menulis cerpen’ bukannya ‘bisa menulis cerpen bagus'. Walaupun
begitu, saya bersyukur karena puisi-puisi saya bernasib lebih baik dari pada
cerpen-cerpen saya yang hanya dua kali dimuat Serambi.
Oke balik lagi ke cerita saat saya menemukan tulisan bagus di internet.
Saat itu, belum kehabisan ide, saya mencoba mengetikkan nama ‘Nanda Winar
Sagita’ di kolom pencarian google. Nanda Winar Sagita ini adalah seorang
penulis asal Takengon yang cerpen-cerpennya rajin nongol di Serambi Indonesia. Dan
baru-baru ini cerpennya yang berjudul ‘Saya Menikahi Seorang Ateis’ berhasil
terbit di Koran Tempo. Ia pun berhasil menyejerkan namanya dengan sederet
cerpenis aceh lainnya yang sudah lebih dulu go nasional,
seperti Ida Fitri, Herman RN, Azhari Ayyub, dan Arafat Nur. Yang lebih hebatnya
lagi, salah satu cerpen beliau yang berjudul 'Lelaki Tanpa Dosa' berhasil masuk
dalam antologi cerpen eksperimental penerbit Basa-Basi. FYI, cuma ada 10 orang
di dunia ini yang berhasil lolos seleksi lomba tersebut. Dan konon, Nanda Winar
Sagita adalah satu-satunya yang mewakili Aceh.
Sementara itu, dua cerpen Nanda Winar Sagita yang masing-masing berjudul
‘Hari-Hari Tanpa Tuhan’ dan ‘Sepasang Mante Tua’pernah saya posting di blog
saya ini. Dan karenanya, ketika saya mengetikkan nama ‘Nanda Winar Sagita’ di
google, saya berharap domain blog saya setidaknya berada di halaman kedua kalau
tidak bisa urutan pertama hasil penelusurannya. Tapi lagi-lagi saya merasa
kecewa, karena hasil yang diberikan google tidak ada yang memuat blog saya sama
sekali. Tapi sebagai gantinya, pada halaman
keempat saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik yang ditulis oleh
seorang penulis yang namanya tidak saya kenal. Nama beliau adalah Nurayrifat.
Dan tulisan itu ditulis melalui platform menulis, Steemit. Dari judulnya saja, tulisan
itu sudah cukup membuat orang-orang yang fanatis beragama naik pitam. Judul
tulisan itu adalah, “Jika Uang Tidak Penting, Mengapa di Rumah Ibadah Ada Kotak
Amal?”. Sebenarnya judul itu cukup membuat saya penasaran. Tapi ada satu hal
lagi yang membuat saya lebih penasaran. Apa hubungannya judul di atas dengan
Nanda Winar Sagita, seorang cerpenis yang karya-karyanya sering saya baca di
Serambi? Tanpa berpikir lagi saya pun langsung membuka link yang diberikan oleh
mbah google itu.
Setelah membaca dengan habis, barulah saya sadari bahwa tulisan saudara
Nurayrifat itu cukup menarik. Walaupun secara keseluruhan, isi antara satu
paragraf dengan paragraf lainnya memang tidak begitu nyambung. Tapi saya masih
bisa maklum, karena tulisan itu memang ditulis hanya untuk mencari sejumlah
dolar di platform Steemit.
Di paragraf pertama, dia membahas sebuah film yang saya lupa judulnya, dan
sebuah teknik pembukaan film yang disebut Voice Over (VO), yang pengertiannya
cukup panjang dan saya pun terlalu pemalas untuk mau membahasnya di sini. Lalu
setelah itu, dia mulai bercerita tentang cerpenis yang saya singgung
sebelumnya, yakni Nanda Winar Sagita. Dia juga bercerita sedikit tentang karier
beliau di dunia sastra, seperti yang saya lakukan di blog ini. Namun ada hal
menarik dari kami, maksud saya, Nurayrifat dan saya. Yaitu, kami sama-sama
pernah mengira bahwa Nanda Winar Sagita ini adalah seorang perempuan. Dalam
tulisannya, Nurayrifat mengaku bahwa ia menambahkan beliau (Nanda Winar Sagita)
sebagai teman di Facebook, namun ia tidak bisa melihat foto profilnya karena
saat itu ia menggunakan aplikasi Facebook gratisan, hehehe.
Sama seperti Nurayrifat, saat pertama kali membaca cerpen Nanda Winar
Sagita, yang berjudul 'Hari-Hari Tanpa Tuhan' di internet, saya langsung
menganggap bahwa nama itu adalah milik seorang wanita. Dan tanpa alasan yang
jelas, saya merasa yakin bahwa Nanda Winar Sagita ini adalah seorang wartawan
senior di Serambi Indonesia. Keyakinan itu berlangsung berbulan-bulan hingga
suatu hari saya iseng mengetikkan namanya di kolom pencarian Facebook, dan
alangkah kagetnya saya setelah tahu bahwa Nanda Winar Sagita itu ternyata
adalah seorang laki-laki tulen, dan masih muda pula. Hmm, mungkin nama ‘Winar
Sagita’ adalah nama umum yang dipakai oleh kaum pria di dataran tinggi Gayo
sana, begitulah pikir saya waktu itu. Dan karena saya bukan orang Gayo, dan
juga bukan orang yang berpengetahuan luas, wajar saja kalau saya tidak tahu.
Ditambah lagi, sebagaimana kita ketahui, nama ‘Nanda’ adalah sebuah nama yang
bersifat unisex di Indonesia, yakni bisa digunakan oleh kaum adam maupun kaum
hawa. Karena itulah, saya tidak begitu merasa besalah atas kesalahpahaman saya
selama ini, wkwkwk (peace Bang Nanda).
Setelah menulis sedikit tentang Nanda Winar Sagita, Nurayrifat pun mulai
bercerita sedikit tentang dirinya. Ia mengaku dirinya jadi terangsang untuk
menulis lagi setelah membaca karya Nanda Winar Sagita yang dimuat di antologi
cerpen eksperimental Basa-Basi. Dalam hal ini kami lagi-lagi punya kesamaan,
yakni sama-sama ingin menulis setelah membaca karya hebat. Melalui Steemit,
Nurayrifat pun mengakui bahwa setelah membaca cerpen itu, tiba-tiba ia ingin
menyelesaikan prosanya yang berjudul ‘Lempar Tuhan ke Laut’. Sebenarnya, prosa
itu sudah selesai, 140 halaman. Tapi gara-gara laptopnya bermasalah, filenya
hangus. Di situlah saya mulai tertarik pada tulisan beliau. Dan, sama seperti
saat membaca beberapa potong paragraf di cerpennya AS Laksana, saya juga
tertawa di dalam hati tatkala membaca tulisan Nurayrifat tersebut. Bahkan
saking sukanya saya pada paragraf tersebut, saya pun men-screen shot-nya
dan menjadikannya sebagai unggahan story di akun Instagram saya. Tapi di blog
ini, saya ingin mengutipnya lebih lengkap. Jika kamu tertawa saat membacanya,
berarti kita sama.
___
Jika Uang Tidak Penting, Mengapa di Rumah Ibadah Ada Kotak Amal
Oleh: Nurayrifat
Oh, iya, selain menonton film ini, tadi malam saya juga membaca sebuah
cerpen.
TERIMAKASIH telah mengizinkan saya membaca cerpenmu. Saat menulis artikel
ini saya lebih suka memakai saya ketimbang aku. Tetapi sepertinya saya lebih
condong kepada gaya Akademisi Elitis.
Nanda Winar Sagita, pada mulanya anak ini kupikir adalah seorang perempuan,
sebab aku mengakses FB dengan HP autis, jadi gambarnya berada pada posisi off,
agar lebih cepat terbuka, selain itu untuk menghemat quota internet; pelit
pangkal kaya.
Satu tema 27 cerita. Siasat atau trik karena ceritanya yang singkat?
Membaca cerpen ini mengingatkanku pada dunia paralel, de ja vu, reinkarnasi.
Memang satu hal jika dilihat dari sudut lain, atau sudut tertentu akan terlihat
berbeda, semisal kekasih Allah yang di saat bersamaan berada di ruang, tempat
dan waktu yang berbeda. Aku paling suka Realisme magis ala Totok, Surealisme
Mistis, Kafkaesque, Narator Apatis, Narator Autis, Fabel Hiperbolis dan Fiksi
Ilmiah. Cerpen ini masuk 10 besar Sayembara Cerpen Eksperimental, diantara 10
orang itu, juara 1, 2, 3, hanya ada dua orang yang tidak produktif menulis,
salah satunya adalah Nanda. Sementara 8 orang sangat produktif, novelis, dan
rajin menulis di koran. Aku pernah melihat beberapa kali cerpen Nanda di harian
Serambi Indonesia. Aku mengenalnya hanya di FB, kurasa aku tahu selera bacaannya,
buku yang dibacanya. Aku punya firasat bahwa suatu saat nanti anak ini akan
menjadi penulis besar.
Setelah membaca cerpen ini, aku merasa kambuh lagi ingin menulis,
menyelesaikan prosaku yang belum selesai, Lempar Tuhan Ke Laut. Sebenarnya
sudah selesai, sekitar 140 halaman, namun laptopku bermasalah dan filenya
hangus. Berkata kawanku, "Tuhan telah melemparkanmu dulu ke laut, jangan
main-main dengan Tuhan."
Ini kan hanya Tuhan, terserah aku mau melemparnya kemana. Lagi pula saat
ini Tuhanku adalah uang, jadi aku bebas melemparnya kemanna saja. Tetapi
faktanya aku mencarinya dengan susah payah, Tuhan itu ada dimana-mana, di laci,
di bank, di dompet, susah mendapatkannya sebab mazhabku adalah mazhab
hanafee(bukan Hanafi). Walau naskah itu telah hangus, aku ikhlaskan saja,
setelah kupikir-pikir, naskah itu terlalu jelek dan prematur. Kemudian aku
mencoba menulis ulang dengan plot lain dan sudut pandang berbeda, namun aku
kehabisan bensin. Jika uang tidak penting, maka di rumah ibadah tidak akan ada
kota amal.
Sumber: steemit.com/indonesia/@nurayrifat/jika-uang-tidak-penting-mengapa-di-rumah-ibadah-ada-kotak-amal
___
Setelah membaca habis tulisan itu, entah kenapa saya merasa yakin bahwa
Nurayrifat ini sama berbakatnya dengan cerpenis yang saya singgung sebelumnya,
yakni AS Laksana dan juga Nanda Winar Sagita. Saya tidak tahu kenapa saya
berpikir begitu, padahal baru satu tulisan beliau yang saya baca. Namun
sayangnya, nama beliau ini kurang dikenal. Saya tahu itu, karena setelah saya
mengetikkan nama beliau di kolom pencarian google, hasil yang diberikan google
ternyata lebih miris dari hasil saat saya mengetikkan nama saya sendiri,
wkwkwk.
Mungkin Nurayrifat ini memang tidak begitu berambisi jadi terkenal, karena
sudah jelas-jelas dalam tulisannya itu, ia mengaku menuhankan uang, hehehe. Dan
sepengatahuan saya, Platfrom Steemit memang digunakan oleh beberapa orang
kreatif di kampung saya untuk bisa kaya raya dengan mudah.
Tapi lepas dari itu, saya harus berterima kasih kepada Bang Nurayrifat ini.
Karena berkat tulisan beliau, saya jadi terpikir untuk menulis tulisan ini. Dan
blog yang sudah sangat lama saya terlantarkan ini, akhirnya punya postingan
baru di tahun 2019 ini. Tapi lebih dari itu, tulisan saya ini sebenarnya adalah
sebuah apresiasi kepada tulisan beliau. Karena seperti yang sudah saya singgung
di awal tulisan ini, saya selalu ingin menulis ketika selesai membaca sebuah
karya hebat. Karena itu, tulisan berjudul 'Jika Uang Tidak Penting, Mengapa di
Rumah Ibadah Ada Kotak Amal' adalah sebuah karya yang hebat bagi saya. Selamat
Bung Nurayrifat!
Aku nemu blog ini di halaman satu pencarian AS Laksana :)
ReplyDeleteWkwk, alhamdulillah klo gitu, kayaknya blog saya udah ada kemajuan
ReplyDelete